A. Muslimin
Diriwayatkan dari Abi Umamah Al-Bahili dia berkata bahwa Rasulullah SAW
telah bersabda: “Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan
perbaikilah niatmu didalamnya.”Hadith dari Usamah : Aku berkata; Ya Rasulullah SAW aku tidak pernah
melihatmu berpuasa satu bulan dari bulan-bulan ini seperti puasa dalam bulan
Sya’ban.” Sabda Rasulullah SAW: “Wahai Usamah, itu adalah satu bulan yang
kebiasaannya manusia lengah darinya antara Rajab dan Ramadan. Sya’ban adalah
satu bulan yang di dalamnya diangkat amal-amal ini kepada Tuhan seru sekalian
alam, maka sebab itu aku suka kalau amalku diangkat sedang aku dalam keadaan
puasa.”Dikatakan bahwa sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki dua malam
hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua hari raya. Hari
raya bagi para malaikat ialah pada malam Bara’ah yaitu malam nisfu Sya’ban dan
malam lailatul Qadar, dan hari raya bagi orang-orang Islam di bumi ialah pada
hari raya Aidil Fitri dan Aidil Adha.As-Subki dalam tafsirnya menyatakan: “Sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban itu
menutup dosa-dosa setahun, malam jum’at menutup dosa seminggu dan malam
Lailatul Qadar menutupkan dosa seumur hidup.”
Senin, 25 November 2013
Minggu, 24 November 2013
Jibril Memberi Peringatan Kepada Nabi Yusof
A. Muslimin
Firman Allah
SWT:
“Dan bersama dengan Yusuf masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda.” (Yusuf: 36)
“Dan bersama dengan Yusuf masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda.” (Yusuf: 36)
Dua orang
yang masuk ke dalam penjara tersebut, adalah tukang beri minum raja dan tukang
masak raja. Sedangkan ketika itu yang menjadi raja yaitu “Royyaan.” Sebab
dimasukkan kedua orang pemuda ke dalam penjara adalah kerana kedua pemuda
tersebut telah menerima suap daripada raja Roma dengan tugas memberi racun
dalam makanan dan minuman raja Royyaan.
Tukang masak menerima suap tersebut. Sementara itu tukang memberi air
raja menolak tawaran raja Roma, dan melaporkan kepada raja tentang pengkhianatan
yang dilakukan oleh tukang masak. Namun tukang memberi air juga dimasukkan ke
dalam penjara bersama dengan tukang masak tadi. Mereka berada di penjara lebih
kurang selama tiga hari. Di dalam penjara, mereka berdua melihat Nabi Yusuf
suka membuat penilaian tentang mimpi. Untuk mencuba kebenaran tafsiran atau
penilaian Yusuf mereka mengatakan seakan akan mereka bermimpi, padahal
sesungguhnya mereka hanya berbohong.
Sebagian ulama mengatakan bahawa tukang memberi minum raja memang
betul-betul bermimpi sedangkan tukang masak tidak bermimpi sama sekali. Tukang
memberi minum raja berkata: “Aku bermimpi seakan-akan melihat ada tiga buah
bekas atau mangkuk dari emas, aku memeras anggur dan memasukkan ke dalam bekas
itu. Lalu aku buat khamar dan aku berikan kepada raja Royyaan. Tukang masak
raja berkata pula: “Aku bermimpi seakan akan diriku sedang memikul satu bakul
roti di atas kepalaku, dan burung-burung memakan roti tersebut.”
Kemudian Nabi Yusuf as meramal mimpi keduanya. Beliau berkata: “Wahai
kedua temanku, adapun salah seorang di antara kamu akan memberikan minuman
untuk tuannya dengan khamar, adapun yang seorang lagi ia akan di salib.” Setelah
Nabi Yusuf as selesai meramalkan mimpi mereka, berkata salah seorang di antara
mereka: “Sesungguhnya saya tidak bermimpi.’ Maka Nabi Yusuf menjawab: “Telahku
ramal mimpimu dan bahkan telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Firman Allah SWT maksudnya: “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua
menanyakannya kepadaku.” (Yusuf: 41)Tidak beberapa lama setelah itu, maka
pegawai-pegawai raja membawa tukang masak tersebut, kemudian mereka salib.
Setelah tukang masak tersebut disalib, maka tinggallah tukang memberi minum
raja di penjara selama tiga hari. Kemudian datang utusan raja membawanya keluar
dari dalam penjara, dia diberi pakaian indah, lalu dibawa kepada raja dengan
segala kehormatan.
Ketika tukang memberi minum raja tersebut keluar, Nabi Yusuf sempat
berkata: “Jelaskanlah keadaanku ini kepada tuanmu.” KetikaYusuf berkata
demikian, maka gunung-ganang pun bergoncang dan turunlah Jibril as serta
berkata: “Wahai Yusuf sesungguhnya Allah SWT bertanya kepadamu: Siapakah yang
menjadikan rasa cinta di dalam hati Ya’kub terhadapmu? Yusuf menjawab;
“Tuhanku”. Jibril bertanya: Siapakah yang menyelamatkan dirimu dari tipu daya
saudara-saudaramu? Yusuf menjawab; Tuhanku. Siapakah yang telah memeliharamu di
dalam perigi? Yusuf menjawab; Tuhanku. Siapakah yang menjadikan rasa suka
Zulaikha terhadapmu? Yusuf menjawab; Tuhanku. Kemudian Jibril bertanya: Siapa
pula yang telah menyelamatkan dirimu dari tipu daya Zulaikha? Yusuf menjawab;
Tuhanku.”
Selanjutnya Jibril berkata: “Wahai Yusuf, sesungguhnya Allah SWT telah
membuat kebaikan ini untukmu. Maka di manakah engkau melihat tidak mempunyai
Allah, sehingga engkau meminta pertolongan kepada yang lain? Wahai Yusuf, dulu
datukmu Ibrahim as tidak mahu meminta tolong kepada Jibril ketika ia akan
dilemparkan ke dalam api oleh Namruz. Ketika itu aku berkata kepadanya: “Apakah
engkau memerlukan pertolongan wahai Ibrahim? Kemudian Ibrahim menjawab:
Kepadamu, aku tidak meminta pertolongan.” Begitu pula datukmu Ismail, ia tidak
meminta pertolongan apa pun kepada ayahnya Ibrahim, ketika ia akan dikorbankan.
Namun ia hanya berkata: “Insya Allah engkau akan memperolehi aku termasuk
golongan orang-orang yang sabar.” “Tetapi engkau wahai Yusuf baru sahaja tiga
hari berada di dalam penjara, sudah tidak sabar, sehingga engkau minta
pertolongan kepada raja.” Maka bersujudlah Nabi Yusuf as. kepada Allah SWT, dan
menangis selama empat puluh hari. “YaAllah, demi kehormatan datukku Ibrahim as
dan Ismail as dan Ishak as serta demi ayahku Ya’kub as kasihanilah aku dan
ampunkanlah kesalahanku.”
Maka turunlah Jibrail as menemui Nabi Yusuf as dan berkata: “Sesungguhnya
Allah SWT berfirman: “Aku telah memaafkanmu, akan tetapi Allah beri engkau
hukuman dengan tinggal di dalam penjara selama tujuh tahun lagi.”
Sabtu, 23 November 2013
Jibril Menggoncang Tugu Kaum Nabi Saleh
A. Muslimin
Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat
penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas
dan menjaganya (dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah
tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan
kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka
tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu,
dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain
daripadaNya. (Ar-R'ad 13:11)
Kaum Nabi Saleh telah dibinasakan
Allah dengan suara jeritan Jibril. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu. Firman
Allah SWT: "Sesungguhnya kami menimpakan atas mereka suatu suara yang
keras mengguntur; maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang
dikumpulkan oleh) yang mempunyai kandang binatang." (Al- Qomar: 31)
Dikisahkan bahwa pada suatu hari Nabi
Saleh menyampaikan berita bahwa pada masa itu akan lahir di tengah-tengah
mereka seseorang yang menjadi penyebab kehancuran kaum itu. Maka para pemuka
kaum itu mengadakan musyawarah untuk membahas masalah tersebut. Akhirnya mereka
memutuskan, harus memisahkan diri dari isteri masing-masing, jika ada yang
hamil dan melahirkan anak lelaki maka harus dibunuh. Keputusan mereka itu
dijalankan. Salah seorang dari kaum mereka melahirkan seorang anak lelaki,
namun mereka tidak sampai hati untuk membunuhnya. Disebabkan keluarga tersebut
belum pernah mempunyai anak, anak itu bemarna Qodaron. Sebanyak sembilan kaum
telah membunuh anak lelaki mereka yang lahir. Namun ketika mereka melihat
Qodaron telah menjadi seorang pemuda, mereka merasa menyesal karena telah
membunuh anak-anak mereka dahulunya. Kemudian mereka berunding untuk membunuh Nabi
Saleh, Mereka berkata: "Sebaiknya kita pergi keluar kota dahulu, kemudian
kita pulang dengan secara sembunyi, pada saat itu Nabi Saleh kita bunuh. Lalu
kita bersumpah dengan nama Allah dengan kerabatnya bahwa kita tidak membunuhnya
dan kita tidak tahu sama sekali tentang pembunuhan itu."
Ketika itu umur Qodaron lima belas
tahun. Di saat mereka sedang minum arak, mereka juga memerlukan air, sedangkan
pada hari itu merupakan giliran unta untuk mendapatkan air, mereka sudah puas
mencari air di tempat yang lain, namun tidak mereka temui. Kemudian Qodaron
berkata: "Menurut pendapatku, lebih baik kita bunuh saja unta Saleh, sebab
kita dalam kesukaran air." Kemudian mereka pun keluar dengan membawa
sebilah pedang, mereka bersembunyi di rumput-rumput di bawah kaki gunung. Pada
saat giliran unta Saleh ingin minum air, maka dengan segera Qodaron membunuh
unta tersebut. Kemudian mereka juga berusaha membunuh anak unta Nabi Saleh,
maka anak unta itu pun berlari ke arah gunung, maka dengan kuasa Allah gunung
itu terbelah, dan masuklah anak unta itu ke dalamnya. Ketika Nabi Saleh as
mengetahui peristiwa pembunuhan terhadap unta mukjizatnya itu, maka ia berkata
kepada kaumnya: "Anda semua boleh duduk di rumah selama tiga hari, setelah
itu akan datang siksaan kepada anda. Tandatandanya adalah, pada hari pertama
muka-muka kamu semua menjadi merah, pada hari kedua menjadi kuning, pada hari
ketiga menjadi hitam legam."
Di saat mereka melihat tanda-tanda
seperti yang diucapkan oleh Nabi Saleh itu betul, mereka pun berkata:
"Mari kita bunuh Nabi Saleh seperti kita membunuh untanya." Mereka
kemudiannya menuju ke tempat tinggal Nabi Saleh. Peristiwa itu terjadi pada
hari Rabu. Kemudian Jibril datang sambil memegang tugu-tugu kota itu lalu
digoncangnya dengan sekeras-kerasnya. Akhirnya dia menjerit dengan
sekuat-kuatnya sehingga mereka semua mati pada saat itu juga.
Begitu gambaran betapa bahayanya
minuman keras yang memabukkan ini. Karena sebab terbunuhnya unta mukjizat Nabi
Saleh disebabkan minuman keras. Fitnah Harut dan Maarut juga karena minuman
keras. Sebab terbunuhnya Nabi Yahya karena minuman keras. Kaum Nabi Nuh
mengganggu Nabi Nuh karena minuman keras. Pembunuhan terhadap Usman juga
disebabkan minuman keras. Pembunuhan terhadap Husin juga karena minuman
keras."
Kamis, 21 November 2013
Rasulullah, Matahari dan Bulan
A. Muslimin
Bagi setiap orang ada malaikat penjaganya silih berganti dari
hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya (dari sesuatu bahaya)
dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada
sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana
(disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak
atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat
menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya. (Ar-Ra’d, 13:11)
Pada zaman jahiliah di antara beberapa orang raja ada seorang raja yang
bernama raja Habib lbnu Malik di kota Syam. Orang-orang Arab menggelarnya “Raihanah
Quraisyin.”
Ketika Raja Habib bersama angkatan tentaranya 12,000 orang singgah di
Abthah, yaitu suatu tempat dekat kota Makkah maka datanglah Abu Jahal beserta
pengikut-pengikutnya memberikan berbagai hadiah kepada raja Habib.
Setelah itu Abu Jahal dipersilakan duduk di sebelah kanan raja Habib.
Berkata raja Habib: “Wahai Abu Jahal katakan kepadaku tentang Muhammad.” Berkata
Abu Jahal: “Tuan, silahkan tuan tanya tentang Muhammad itu dari Bani Hasyim.” Raja
Habib pun bertanya kepada Bani Hasyim: “Wahai Bani Hasyim, katakan padaku
tentang Muhammad itu.” Berkata Bani Hasyim: “Sebenarnya kami telah mengenal
Muhammad itu sejak dia kecil, orangnya sungguh amanah dan setiap katanya benar,
dia tidak akan berkata selain dari yang benar. Apabila umur Muhammad meningkat
pada 40 tahun dia telah meninggalkan Tuhan kita dan dia membawa agama baru yang
bukan datangnya dari nenek moyang kita.” Setelah raja Habib mendengar
penjelasan dari Bani Hasyim maka dia pun berkata: “Bawa Muhammad menghadap,
kalau Muhammad menolak maka gunakan kekerasan.
Setelah itu mereka pun mengutus salah seorang untuk menjemput Muhammad
SAW. Setelah Rasulullah SAW menerima pesanan raja, baginda pun bersiap-siap
untuk pergi, sementara itu Abu Bakar ra dan Siti Khadijah menangis kerana takut
baginda didzalimi oleh raja tersebut. Rasulullah SAW berkata: “Janganlah kamu
berdua menangis, serahkanlah urusanku ini kepada Allah SWT.” Kemudian Abu Bakar
ra pun memberikan pakaian untuk RasuIulIah SAW yang terdiri dari baju berwarna
merah dan serban berwarna hitam.
Setelah Rasulullah SAW mengenakan pakaian tersebut maka baginda bersama
Abu Bakar ra dan Khadijah ra pun pergi menghadap raja Habib. Setelah sampai di
hadapan raja, Abu Bakar ra berdiri di sebelah kanan Rasulullah SAW sementara
Siti Khadijah berdiri di belakang Rasulullah SAW. Setelah raja Habib melihat
baginda Rasulullah SAW berdiri dihadapannya maka raja Habib pun bangun memberi
hormat mempersilahkan Rasulullah SAW duduk di sebuah kursi yang dibuat dari
emas. Sementara itu Siti Khadijah yang merasa cemas berdoa kepada Allah SWT:
“Ya Allah, tolonglah Muhammad dan mudahkanlah dia menjawab semua pertanyaan.” Sewaktu
baginda duduk di hadapan raja Habib maka keluarlah cahaya memancar dari wajah
baginda dan baginda duduk dengan tenang tanpa rasa takut.
Raja Habib mulai bertanya : ‘Wahai Muhammad, kamu tahu bahwa setiap
Nabi itu ada mukjizatnya, jadi apakah mukjizat kamu itu?” Bersabda Rasulullah
SAW: “Katakan apakah yang kamu kehendaki?” Berkata raja Habib: Aku mau matahari
itu terbenam dan bulan turun ke bumi kemudian bulan terbelah menjadi dua,
kemudian masuk di bawah baju kamu dan separuh keluar melalui lengan baju kamu
yang kanan dan sebelah lagi hendaklah keluar melalui lengan baju kamu yang
kiri. Setelah itu bulan itu berkumpul menjadi satu di atas kepala kamu dan
bersaksi atasmu, kemudian bulan itu kembali ke langit dan mengeluarkan cahaya
yang bersinar dan bulan itu tenggelam. Sesudah itu matahari yang tenggelam
muncul dan berjalan ke tempatnya seperti semula.”
Setelah mendengar begitu banyak yang raja Habib kehendaki, maka baginda
Rasulullah SAW pun bersabda: Apakah kamu akan beriman kepadaku setelah aku
melakukan segala apa yang kamu kehendaki?” Berkata raja Habib: “Ya, aku akan
beriman kepadamu setelah kamu dapat menyatakan segala isi hatiku.” Abu Jahal
yang sedang menyaksikan percakapan itu segera melompat kedepan sambil berkata:
“Wahai tuanku, tuanku telah mengatakan yang cukup baik dan tepat.”
Rasulullah SAW pun keluar lalu pergi mendaki gunung Abi Qubais,
kemudian baginda mengerjakan sholat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah SWT.
Setelah berdoa maka turunlah malaikat Jibril as bersama dengan 12,000 malaikat
dengan memegang panah di tangan mereka. Malaikat Jibril as berkata: “Assalamu’alaika
yaa Rasulallah, sesungguhnya Allah telah bersalam kepadamu dan berfirman: “Wahai
kekasihku, janganlah kamu takut dan bersusah hati. Aku akan senantiasa
bersamamu di mana saja engkau berada dan telah tetap dalam pengetahuanKu dan
berjalan di dalam qadha kepastianKu di zaman azali apa-apa yang
diminta oleh raja Habib bin Malik pada hari ini; pergilah kamu kepada mereka
dan berikan hujjahmu dengan tepat dan
jelaskan keadaanmu dan keutusanmu. Ketahuilah sesungguhnya Allah SWT telah
menundukkan matahari, bulan, malam dan siang. Sesungguhnya raja Habib itu
mempunyai seorang puteri yang tidak mempunyai kedua tangan, kedua kaki dan
tidak mempunyai kedua mata. Dan katakan kepadanya bahwa Allah SWT telah mengembalikan
kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua matanya.”
Setelah itu Rasulullah SAW pun turun dari gunung Abi Qubais dengan rasa
tenang dan rasa gembira. Malaikat Jibril as di angkasa dan para malaikat
berbaris lurus dan Rasulullah SAW berdiri di maqam Ibrahim. Dan saat itu
matahari terbenam. Matahari mulai seakan-akan berlari cepat, sepertinya
matahari cepat-cepat terbenam dan menjadi gelap gelita. Kemudian bulan terbit
dengan terangnya, setelah bulan naik meninggi baginda Rasulullah SAW memberikan
isyarat dengan dua jari-jarinya kepada bulan itu, dan bulan seakan-akan berlari
turun ke bumi dan berdiri di hadapan baginda Rasulullah SAW. Kemudian bulan itu
bergerak-gerak seperti awan lalu bulan itu terbelah menjadi 2 dan bulan itu
masuk di bawah baju Rasulullah SAW separuhnya keluar melalui lengan sebelah
kanan baju baginda sementara yang sebelah lagi keluar melalui lengan sebelah
kiri baju baginda. Kemudian bulan kembali bercantum mengeluarkan cahaya dengan
terang lalu berdiri di atas kepala Rasulullah SAW dengan berkata: “Saya
bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi
bahwa Muhammad itu hamba Allah dan RasulNya sesungguhnya berbahagialah
orang-orang yang membenarkan engkau Muhammad dan rugilah orang-orang yang menyalahi
engkau.”
Setelah bulan berkata demikian maka bulanpun kembali ke langit menjadi
terang dan menghilangkan dirinya. Setelah bulan menghilangkan dirinya maka
matahari pun timbul kembali. Oleh kerana raja Habib telah mengatakan bahwa
Rasulullah SAW mesti memberitahu rasa hatinya maka diapun berkata: ‘Wahai
Muhammad, kamu masih ada satu syarat lagi.” Belum sempat Habib hendak berkata
maka baginda Rasululah SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu mempunyai seorang
puteri yang tidak mempunyai dua tangan, tidak mempunyai dua kaki dan dia juga
tidak mempunyai dua mata dan sesungguhnya ketahuilah olehmu Allah SWT telah
mengembalikan kedua tangan, kedua kaki dan kedua matanya.”
Setelah raja Habib mendengar dan meihat segala-galanya maka dia pun
berkata: “Wahai ahli Makkah, tidak ada kufur sesudah iman dan tidak ada
keraguan sesudah yakin, oleh itu ketahuilah oleh kamu sekelian bahwa
sesungguhnya aku bersaksi, Tidak ada Tuhan melainkan Allah yang satu dan tidak
ada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu hambaNya
dan utusan-Nya.” Raja Habib dan semua bala tenteranya masuk Islam. Kemarahan
Abu Jahal meluap-luap dan dia berkata: “Wahai tuan raja, apakah tuan percaya
kepada ahli syihir ini sehingga tuan terpesona olehnya.” Raja Habib tidak
menghiraukan kata-kata Abu Jahal, sebaliknya raja Habib kembali ke negerinya
Syam. Ketika raja Habib masuk ke dalam istananya dia disambut oleh anak
perempuanya dengan mengucap: “Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna
Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu” (Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada
Tuhan melainkan AlIah dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hambaNya dan
utusanNya).
Raja Habib tercengang dengan kalimah yang diucapkan oleh anaknya maka
dia pun berkata: “Wahai anakku, siapakah yang mengajarkan kepada kamu kalimat
ini?” Berkata anak raja Habib: “Sebenarnya sewaktu saya tidur, telah datang
seorang lelaki lalu berkata kepada saya: “Sesunguhnya ayah kamu telah masuk
Islam, kalau kamu ingin masuk Islam maka aku kembalikan segala anggota kamu
dengan baik.” Setelah itu saya pun tidur dan pagi ini diri saya tidak ada yang kurang
seperti yang ayah lihat sekarang” Kemudian raja Habib bersyukur sujud kepada
Allah SWT agar nikmat iman dan bertambahlah keyakinan. Setelah itu raja Habib
mengumpulkan emas, perak dan kain lalu dinaikkan atas lima ekor unta berserta
dengan beberapa orang hamba dikirimkan kepada Rasulullah SAW. Ketika rombongan
yang membawa segala hadiah dari raja Habib itu sampai dekat kota Makkah, tiba-tiba
muncul Abu Jahal bersama konco-konconya lalu berkata: “Kamu semua milik siapa?”
Berkata rombongan itu: “Kami semua ini milik raja Habib bin Ibnu Malik dan kami
hendak pergi kepada Rasullulah SAW.” Setelah Abu Jahal mendengar jawaban dari
rombongan itu maka dia coba merampas semua barang-barang yang dibawa oleh
rombongan itu, oleh karena rombongan itu enggan menyerahkan barang-barang
tersebut maka terjadilah perselisihan antara kedua belah pihak. Setelah terjadi
peperangan diantara kedua belah pihak maka berkumpullah penduduk kota Makkah
dan datang bersama mereka Rasulullah SAW.
Melihat kedatangan orang banyak maka berkatalah rombongan raja itu: “Semua
barang yang kami bawa ini adalah milik raja Habib, dan raja Habib berhajat
untuk menghadiahkan semua barang ini kepada Rasulullah SAW.” Abu Jahal berkata:
“Raja Habib menghadiahkan semua barang ini kepada saya.” Lalu Rasulullah SAW
bersabda: “Wahai penduduk Makkah, adakah kamu semua suka kalau aku mengatakan
sesuatu?” Berkata penduduk Makkah: “Ya, kami setuju.” Bersabda Rasulullah SAW:
“Kita hendaklah memutuskan percakapan unta ini, untuk siapakah sebenarnya harta
ini. Berkata Abu Jahal: “Kita tentukan perkara ini besok pagi.” Setelah
mendapat persetujuan dari Rasulullah SAW untuk ditunda pada besok hari maka Abu
Jahal pulang dan terus pergi kepada berhala-berhala yang disembahnya, dia pun
memberi beberapa korban kepada berhala-berhala mereka dan memohon pertolongan
pada berhala mereka sampai pagi.
Ketika waktu yang dijanjikan telah tiba maka ramailah penduduk kota
Makkah datang untuk melihat keputusan pengadilan. Rasulullah SAW datang bersama
bapak saudara baginda dan Abu Jahal bersama konco-konconya. Setelah Abu Jahal
sampai maka dia pun terus mengelilingi unta itu dengan berkata: “Berkatalah
unta-unta semua atas nama Lata, Uzza dan Manata.” Setelah Abu Jahal berkata
demikian sekian lama sehingga matahari telah tinggi, namum unta-unta itu tidak
berkata apa-apa. Maka berkata penduduk kota Makkah: ‘Wahai Abu Jahal, cukuplah
apa yang kamu buat itu, sekarang giliran Muhammad untuk melakukannya.” Rasulullah
SAW pun menghampiri unta-unta tersebut dengan berkata: ‘Wahai unta makhluk
Allah, demi ciptaan Allah berkatalah kamu dengan kekuasaan Allah.” Setelah
Rasulullah SAW berkata demikian maka bangunlah salah satu dari lima ekor unta
lalu berkata: “Wahai ahli kota Makkah, kami semua ini adalah hadiah raja Habib
bin Ibnu Malik untuk dipersembahkan kepada Rasulullah SAW.”
Setelah unta itu berkata demikian maka Rasulullah SAW pun menarik
unta-unta tersebut berserta dengan barang-barang yang dibawanya ke gunung
Qubais, kemudian Rasulullah SAW mengeluarkan semua emas dan perak yang ada di
atas unta lalu dikumpulkan sehingga menjadi bukit lalu berkata: “Wahai emas dan
perak, hendaklah kamu semua menjadi pasir.” Kemudian dengan sekejap saja
kesemua emas dan perak itu menjadi bukit sehingga sekarang.
Rabu, 20 November 2013
Malaikat Suka Duduk dalam Majlis Dzikir
A. Muslimin
Dari Abu Hurairah ra berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: "Allah Tabaraka wa Taala mempunyai para malaikat yang ditugaskan mencari majlis zikir, sebaik saja mereka menjumpai majlis zikir, maka mereka akan duduk bersama orang-orang yang sedang berzikir serta memanggil malaikat-malaikat yang lain. Mereka akan datang berkerumun mengelilingi orang-orang yang sedang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka sehingga memenuhi ruang antara mereka dengan langit dunia.
Dari Abu Hurairah ra berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: "Allah Tabaraka wa Taala mempunyai para malaikat yang ditugaskan mencari majlis zikir, sebaik saja mereka menjumpai majlis zikir, maka mereka akan duduk bersama orang-orang yang sedang berzikir serta memanggil malaikat-malaikat yang lain. Mereka akan datang berkerumun mengelilingi orang-orang yang sedang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka sehingga memenuhi ruang antara mereka dengan langit dunia.
Apabila majlis berzikir itu
tamat, maka para malaikat akan naik kembali ke langit. Lalu Allah SWT bertanya
mereka: "Wahai para malaikatKu, dari manakah kamu semua?" Berkata
para Malaikat: "Ya Tuhan kami, kami baru saja pulang dari memeriksa
hamba-hambaMu di bumi, mereka bertasbih, takbir, talil dan tahmid serta memohon
kepadaMu." Sebenarnya Allah SWT lebih mengetahui tentang perbuatan mereka
dan semua makhluk ciptaannya. Setelah Allah SWT mendengar kata-kata para
malaikatNya, maka Allah SWT pun berfiman: "Wahai para malaikatku, apakah
yang mereka minta kepadaKu?" Berkata para malaikat: "Hamba-hambamu
itu memohon syurga dariMu." Allah SWT bertanya lagi: "Pemahkah mereka
melihat akan syurga itu?" Berkata para malaikat lagi: "Mereka tidak
pernah melihat syurga itu."
Berfiman Allah SWT:
"Hamba-hambaKu memohon syurga padahal mereka tidak melihatnya dan apalagi
kalau mereka melihat syurga itu." Berkata para malaikat: "Mereka juga
memohon kebebasan." Allah SWT bertanya: "Mohon bebas dari apa?"
Berkata para malaikat: "HambaMu itu memohon kepadaMu supaya mereka itu
dibebaskan dari neraka jahanam." Allah SWT bertanya para malaikat lagi:
"Pernahkah hamba-hambaKu melihatkan nerakaKu itu?" Berkata para
malaikat: "Tidak ya Allah." Allah SWT berfirman: "Hamba-hambaKu
itu tidak pemah melihat neraka jahanam, tapi mereka memohon supaya dibebaskan
darinya, apalagi kalau mereka melihatnya."
Kemudian para malaikat berkata
lagi: "Ya Allah, hambaMu itu memohon ampun kepadaMu," Allah SWT
berfiman: "Dengarlah wahai para malaikatKu, Aku mengampuni mereka itu dan
aku akan memberi apa yang mereka minta serta membebaskan mereka dari api neraka
yang mereka takut itu." Berkata malaikat lagi: "Ya Allah, di antara
mereka itu terdapat seorang hamba yang penuh dengan dosa, dia melalui majlis
itu lalu duduk bersama mereka yang sedang berzikir." Allah SWT berkata:
"Orang itu pun Ku ampuni, begitu juga dengan setiap orang yang terlibat
dalam majlis zikir itu, tidak ada yang celaka."
Selasa, 12 November 2013
Muharram : Tahun Baru Islam
A. Muslimin
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, pensyariatannya dinyatakan dalam hadis yang shahih, dimana Rasulullah Saw pada akhir hidup beliau sudah merencanakan untuk puasa pada tanggal 9, hanya saja beliau wafat sebelum melaksanakannya. Beliau juga telah memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal 10 saja; sebagian ulama memakruhkannya, meskipun sebagian ulama yang lain memandang tidak mengapa jika hanya berpuasa ‘Asyuro (tanggal 10) saja.
Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Abu
‘Amr ibn Al ‘Alaa berkata, “Dinamakan bulan Muharram karena peperangan (jihad) diharamkan
pada bulan tersebut” (Tarikh Ad
Dimasyq 1/51), jika saja jihad yang disyariatkan lalu hukumnya menjadi terlarang pada
bulan tersebut maka hal ini bermakna
perbuatan-perbuatan yang secara asal telah dilarang oleh Allah Swt memiliki penekanan pengharaman untuk lebih dihindari secara khusus pada bulan ini.
Allah Swt berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا
عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ
مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ
أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ
كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya
bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di
waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam
bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana
merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa." (Q.S. at Taubah :36).
Salah seorang ahli tafsir
dari kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Di’amah Sadusi RA menyatakan, “Amal
sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana
kezholiman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan
kezholiman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun secara umum kezholiman
adalah dosa yang besar” (lihat Tafsir Al Baghawi dan Tafsir Ibn Katsir)
Dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah RA, Rasulullah Saw menjelaskan keempat bulan haram yang dimaksud :
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ
يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ
شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ
وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya
zaman itu berputar sebagaimana
bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada
dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan
berturut-turut; Dzulqa’dah,
Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan
Jumada Akhiroh dan
Sya’ban.” HR. Bukhari (3197) dan Muslim (1679)
Kedua belas bulan yang ada
adalah makhluk ciptaan Allah, akan tetapi bulan Muharram meraih keistimewaan
khusus karena hanya bulan inilah yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan
Allah)
Rasulullah Saw bersabda :
Rasulullah Saw bersabda :
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ
اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ
اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan
adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang
paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. H.R. Muslim (11630) dari Abu Hurairah
Hadits ini mengindikasikan adanya keutamaan khusus karena disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafad Allah). Para Ulama telah menerangkan bahwa ketika suatu makhluk disandarkan pada
lafzhul Jalalah maka itu
mengindikasikasikan tasyrif (pemuliaan) terhadap makhluk tersebut, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) bagi masjid atau lebih khusus Ka’bah dan naqatullah (unta Allah) istilah bagi
unta Nabi Sholeh. Demikian pula
menurut Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqy. (lihat
Hasyiah As Suyuthi ‘ala Sunan An Nasaai)
Bagaimana memadukan antara hadits ini dengan hadits yang
menyebutkan bahwa Nabi Saw memperbanyak puasa di
bulan Sya’ban bukan di bulan Muharram? Imam Nawawi telah menjawab pertanyaan
ini, beliau mengatakan boleh jadi Rasulullah Saw belum mengetahui
keutamaan puasa Muharram kecuali di akhir hayat beliau atau mungkin ada saja
beberapa udzur yang menghalangi beliau untuk memperbanyak berpuasa di bulan
Muharram seperti beliau mengadakan safar atau sakit. (Lihat Al Minhaj Syarah
Shohih Muslim bin Hajjaj)
Kaum Yahudi juga berpuasa di hari Asyuro
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى
الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ
هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ
مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Ibnu Abbas RA berkata : Ketika
Rasulullah Saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘
Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini
adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari
musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah Saw pun bersabda, "Aku
lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“Maka beliau berpuasa dan
memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. H.R. Bukhari (1865) dan
Muslim(1910)
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ
Dari Abu Musa RA berkata, “Hari ‘Asyuro adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan
mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah Saw bersabda (kepada
ummatnya), “Berpuasalah kalian (pada hari itu)” HR. Bukhari (1866) dan
Muslim(1912), lafal hadits ini menurut periwayatan imam Muslim)
Kaum Quraiys di zaman Jahiliyah juga berpuasa Asyuro dan puasa ini
diwajibkan atas kaum muslimin sebelum kewajiban puasa Ramadhan
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ
الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ
تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ . متفق
عليه.
Dari Aisyah RA berkata, Kaum Qurays pada masa Jahiliyyah juga berpuasa di hari ‘Asyuro
dan Rasulullah Saw juga berpuasa pada hari itu, ketika beliau telah tiba di Madinah maka beliau tetap
mengerjakannya dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa. Setelah puasa
Ramadhan telah diwajibkan beliau pun meninggalkan (kewajiban) puasa ‘Asyuro,
seraya bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa maka silakan tetap berpuasa
dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa maka tidak mengapa”. HR. Bukhari (1863) dan Muslim(1897)
عن عَبْد اللَّهِ بْن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ
عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ
رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ
تَرَكَهُ (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Umar RA bahwa kaum Jahiliyah dulu
berpuasa Asyuro dan Rasulullah Saw serta kaum muslimin juga
berpuasa sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya
hari ‘Asyuro termasuk hari-hari Allah, barangsiapa ingin maka berpuasalah dan
siapa yang ingin meninggalkan maka boleh” HR. Muslim(1901)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى
صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ
عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
"Aku tidak pernah
melihat Rasulullah Saw, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali
pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” H.R. Bukhari (1867) dan Muslim(1914)
عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ
عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ
كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا
فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ
صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى
الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى
أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Dari Rubai’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’ RA
berkata, Nabi Muhammad Saw di pagi hari Asyuro mengutus ke perkampungan kaum
Anshar yang berada di sekitar Medinah (pesan), “Barangsiapa yang tidak berpuasa
hari itu hendaknya menyempurnakan sisa waktu di hari itu dengan berpuasa dan
barangsiapa yang berpuasa maka hendaknya melanjutkan puasanya”. Rubai’ berkata,
“Maka sejak itu kami berpuasa pada hari ‘Asyuro dan menyuruh anak-anak kami
berpuasa dan kami buatkan untuk mereka permainan yang terbuat dari kapas lalu
jika salah seorang dari mereka menangis karena ingin makan maka kami
berikan kepadanya permainan tersebut hingga masuk waktu berbuka puasa” HR. Bukhari (1960) dan Muslim (1136)
Keutamaan puasa Asyuro
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ
عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي
قَبْلَهُ
Dari Abu Qatadah
radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda,
“Puasa hari ‘Asyuro aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun
lalu” HR. Tirmidzi (753), Ibnu Majah (1738) dan Ahmad(22024). Hadits semakna
dengan ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohih beliau (1162)
Hukum berpuasa ‘Asyuro Sebelum dan Sesudah Tanggal 10
Ibnu Abbas RA berkata : Ketika Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura
dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) menyampaikan,
"Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah Saw pun bersabda
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ
اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ
حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
:"Jika tahun depan insya Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan
berpuasa juga pada hari
kesembilan (tanggal sembilan)”
Akan tetapi belum tiba
Muharram tahun depan hingga Rasulullah saw wafat di tahun tersebut HR. Muslim (1134)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صُومُوا
التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
Ibnu Abbas radhiyallohu
anhuma beliau berkata, “Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram,
berbedalah dengan orang Yahudi” Diriwayatkan dengan sanad
yang shohih oleh Baihaqi di As Sunan Al Kubro (8665) dan Ath Thobari di Tahdzib
Al Aatsaar(1110)
Imam Ibnu Qoyyim dalam
kitab Zaadul Ma’aad setelah merinci dan menjelaskan riwayat-riwayat
seputar puasa ‘Asyuro, beliau menyimpulkan : Ada tiga tingkatan berpuasa
‘Asyuro: Urutan pertama; dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari,
yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11).
Urutan kedua; puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak
hadits . Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja. (Zaadul Ma’aad 2/63)
Kesimpulan Ibnul Qayyim di
atas didasari dengan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma,
Rasulullah Saw bersabda :
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ
الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
"Puasalah pada hari
Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari
sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ HR. Imam Ahmad(2047), Ibnu
Khuzaimah(2095) dan Baihaqi (8667)
Namun hadits ini sanadnya
lemah, Asy Syaikh Al Albani RA
menyatakan, “Hadits ini sanadnya lemah karena salah seorang perowinya yang
bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila jelek hafalannya, selain
itu riwayatnya menyelisihi riwayat ‘Atho bin Abi Rabah dan selainnya yang juga
meriwayatkan dengan sanad yang shohih bahwa ini adalah perkataan Ibnu
Abbas RA sebagaimana yang disebutkan oleh Thahawi dan Baihaqi. Ta’liq Shohih Ibn
Khuzaimah (3/290)
Namun demikian puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11 Muharram) dikuatkan oleh para ulama dengan dua alasan :
1. Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan
penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat
memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro
(tanggal 10)
2. Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan
bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, pensyariatannya dinyatakan dalam hadis yang shahih, dimana Rasulullah Saw pada akhir hidup beliau sudah merencanakan untuk puasa pada tanggal 9, hanya saja beliau wafat sebelum melaksanakannya. Beliau juga telah memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal 10 saja; sebagian ulama memakruhkannya, meskipun sebagian ulama yang lain memandang tidak mengapa jika hanya berpuasa ‘Asyuro (tanggal 10) saja.
Secara umum, hadits-hadis
yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah Saw untuk melakukan puasa, sekalipun hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah(sangat dianjurkan),
dan tentunya kita sepatutnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah
banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.
Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan
menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi
ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu
Hibban menyatakan bahwa hal itu boleh
dilakukan.
dilakukan.
Banyak sekali keistimewaan
yang terjadi pada bulan Muharram (10 Muharram). Seperti :
1.
Penciptaan alam, langit, bintang, gunung dan sebagainya.
2.
Adam diciptakan, masuk surga dan taubatnya
diterima Allah SWT.
3.
Nabi Idris diangkat ke langit.
4.
Nabi Nuh mendarat di atas gunung Judi.
5.
Nabi Ibrahim lahir, selamat dari api raja
Namrudz dan diterima taubatnya
6.
Nabi Yunus diselamatkan dari ikan Nun.
7.
Nabi Yusuf keluar dari sumur pembuangan dan
keluar penjara akibat fitnah Zulaikha
8.
Nabi Yakub disembuhkan dari penyakit butanya
9.
Nabi Musa menyeberangi laut Merah bersama
kaumnya.
10.
Nabi Ayub disembuhkan dari penyakit beratnya
11.
Allah Swt menurunkan Kitab Taurat kepada Nabi
Musa
12.
Allah Swt mengampuni Nabi Dawud
13.
Allah Swt pertama kali menurunkan rahmad
14.
Allah Swt pertama kali menurunkan hujan
15.
Allah Swt menciptakan Lauhul Mahfud
16.
Allah Swt menganugerahkan kerajaan kepada Nabi
Sulaiman
17.
Allah Swt menciptakan malaikat Jibril
18.
Allah Swt menciptakan “arsy
19.
Allah Swt menyelamatkan ka’bah dar banjir besar
20.
Allah Swt mengangkat Nabi Isa ke langit
Dan masih
banyak lagi peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Muharram. Dengan banyaknya
kejadian positif ini, maka orang yang berpuasa Muharram sama artinya dengan
menghormati peristiwa-peristiwa tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)

